berbeda jika penelitian Marini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, penelitian ini adalah novel Cinta Suci Zahrana Karya Habiburrahman El Shirazy. Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhang (2010:156). Dalam penelitian tersebut Zhang mengomentari karya-karya Hemingway melalui kajian stilistika.
Tokohdalam novel Laskar Pelangi adalahh Lintang, Ikal, Mahar, Sahara, Syahdan, A kiong, Borek, Kucai, Trapani, A ling, Harun, Bu silmah, Pak Harfan, Flo. Tokoh Ikal ini mempunyai kegemaran yang besar pada sastra.Hal ini terlihat dari kegemarannya dalam menulis puisi. Lain halnya dengan tokoh Lintang. Ia digambarkan sebagai anak yang
Sementaraitu, penguatan sikap dan perilaku positif yang sudah dimiliki oleh pengapresiasi sastra dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. Pertama, terus-menerus dan ajek memberikan pengalaman-pengalaman berkesan, menyenangkan, menggairahkan, menyegarkan, dan memikat dalam apresiasi sastra. Jika memungkinkan malahan meningkatkanya agar
NovelLaskar Pelangi merupakan novel pertama dari tetralogi Laskar Pelangi ( Sang Pemimipi, Edensor, Maryamah Karpov) yang menjadi buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Tak heran, buku ini berhasil menggambarkan dengan kocak sekaligus mengharukan oleh Andrea Hirata. Yang jelas, ia dapat membukakan realita pendidikan formal di
KritikSastra NOVEL EDENSOR NOVEL KETIGA TETRALOGI LASKAR PELANGI di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Sejumlah Esei Sastra - Sejumlah Esai Sastra - Budi Darma. Rp 250.000. Kota Bekasi TSI Store (1) Skandal Sastra Undercover. Rp 78.000. Kab. Sleman Mojok Store (2) Tokopedia.
TéléchargerKRITIK SASTRA | Novel Laskar Pelangi - Bahasa Indonesia 5.1 MB - 03:43 mp3 par Leha Mtmnh en Bombardier Music . Title: KRITIK SASTRA Novel Laskar Pelangi - Bahasa Indonesia Mp3: Uploader: Leha Mtmnh: Duration: 03:43: Size: 5.1 MB: Audio: mp3, 44100 Hz, stereo, s16p, 128 kb/s:
KritikSastra "Laskar Pelangi". Nama : Rara Oktaria Nanda. NPM : A1A010058. A. Kalimat menarik dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Kalimat. Jenis. Halaman. Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sekolah tua yang tutup
Anol. Resensi Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata – Laskar Pelangi adalah novel yang pertama kali diterbitkan oleh penulis kenamaan, Andrea Hirata. Tepatnya, novel ini berhasil dirilis pada tahun 2015 oleh Penerbit Bentang Pustaka. Dalam peradabannya, Andrea Hirata pun mengeluarkan tiga novel sekuel lanjutan dari Laskar Pelangi, di antaranya Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Laskar Pelangi merupakan novel yang terinspirasi dari kisah nyata kehidupan Andrea Hirata selaku penulis yang mana saat itu dirinya bertempat tinggal di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Berkenaan dengan hal tersebut, mudah bagi si penulis merepresentasikan berbagai unsur sosial dan budaya masyarakat Belitung ke dalam bentuk cerita di novel Laskar Pelangi ini secara apik. Hal itulah yang menjadi daya pikat masyarakat untuk membeli dan membaca novel karya Andrea Hirata ini sebab di dalamnya memuat pula kisah inspiratif yang dapat dijadikan motivasi serta renungan bagi pembacanya. Tidak tanggung-tanggung, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini telah mengantongi banyak pencapaian dan itu menjadi sebuah bentuk prestasi bagi sastra. Hal itu terbukti bahwa novel ini telah masuk ke dalam deretan International Best Seller, dialihbahasakan ke dalam 40 bahasa asing, terbit dalam 22 bahasa, dan sukses beredar di lebih dari 130 negara. Tidak hanya itu, Laskar Pelangi berhasil dialihwahanakan ke dalam bentuk layar lebar, drama musikal, serial televisi, lagu, dan koreografi oleh Citydance Company di Washington, serta ditayangkan di Smithsonian dan Berlinale The Berlin International Film Festival. Dalam novel ini Andrea akan membuat kita terbahak-bahak mengikuti kisah orang-orang Melayu di pedalaman Belitong yang lugu, tersedu-sedu oleh kisah cinta yang masygul, atau geleng-geleng kepala oleh intrik-intrik mereka yang luar biasa. Kita akan menemukan manusia-manusia yang tak sempurna, tapi sekaligus menemukan kebijaksanaan dalam diri mereka. Sinopsis Novel Laskar PelangiPenokohan dalam Novel Laskar Pelangi1. Ikal2. Lintang 3. Sahara4. Mahar5. A Kiong6. Syahdan7. Kucai8. Borek9. Trapani10. Harun11. Bu Muslimah12. Pak HarfanKeunggulan Novel Laskar PelangiKelemahan Novel Laskar PelangiAmanat dan Kesimpulan Resensi Novel Laskar PelangiBuku Best Seller RekomendasiArtikel Terkait Rekomendasi Novel Sinopsis Novel Laskar Pelangi LASKAR PELANGI Novel Laskar Pelangi menceritakan kehidupan 10 anak yang tidak mampu, tetapi memiliki semangat juang untuk melanjutkan pendidikannya di kampung Gantung, Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar dari kesepuluh anak yang menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah Gantung merupakan anak dari para penambang timah di pulau dengan perolehan kekayaan alam timah yang terbesar di dunia. Meski demikian, hal tersebut berbanding terbalik dengan taraf kesejahteraan masyarakat asli di suatu daerah. Realitas itu yang mesti diterima oleh seluruh kalangan, mulai dari anak-anak, para orang tuanya, bahkan masyarakat miskin di daerah setempat. Di balik keterbatasan yang harus mereka hadapi, baik itu dalam bentuk sarana dan prasarana maupun tenaga pendidik, kesepuluh anak yang menjadi tokoh utama dalam novel ini tetap mempunyai semangat juang dalam kegiatan pendidikan yang tengah mereka tempuh. Kesepuluh anak hebat itu dinamai Laskar Pelangi, di antaranya bernama Ikal, Lintang, Sahara Aulia Fadillah, Mahar Ahlan, Syahdan Noor Aziz, Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman atau A Kiong, Samson atau Borek, Mukharam Kudai Khairani, Trapani Ihsan Jamari, dan Harun Ardhli Ramadhan. Selang waktu berjalan, mereka semua memiliki seorang teman baru, pindahan dari SD PN Timah bernama Flo. Kebersamaan dari para anggota dari Laskar Pelangi itu bermula ketika penerimaan siswa dan siswa baru di SD Muhammadiyah Gantung. Ketika penerimaan murid baru, terdaftar kurang lebih 9 murid. Akan tetapi, sayangnya kuantitas tersebut tidak mencukupi syarat keberlangsungannya pendidikan di SD Muhammadiyah itu. Bahkan, beberapa waktu sebelum adanya hal tersebut, pemerintah daerah dengan melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Sulawesi Selatan, sudah memberikan peringatan pada pihak Sekolah Dasar Islam tersebut mengenai perencanaan penutupan sekolah yang bisa dikatakan sudah tua itu. Hal tersebut akan direalisasikan bilamana sekolah tidak mampu mencukupi syarat minimal jumlah murid, yaitu paling tidak 10 siswa. Seperti yang sudah dikatakan, bila hal itu terjadi, mau tidak mau ataupun suka tidak suka, sekolah yang bersangkutan tidak diizinkan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar. Seluruh orang tua atau wali, calon siswa, Bu Muslimah dan Pak Harfan pun memiliki harapan penuh menunggu kehadiran siswa ke-10 agar dapat menyelamatkan SD Muhammadiyah. Di detik-detik terakhir Pak Harfan yang sudah menahan rasa kecewa dalam dirinya bersamaan harus menetapkan keputusan yang amat berat. Namun, di tengah kecewa yang mereka rasakan, datanglah seorang anak yang tampak lebih besar bila dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Anak itu tidak sendiri, ia datang bersama ibunya dan ingin mendaftarkan diri sebagai murid baru di SD Muhammadiyah tersebut. Murid baru itu, yakni Harun Ardhli Ramadhan. Harum mempunyai keterbelakangan mental dan bisa dikatakan berperan dalam menyelamatkan sekolah, seluruh siswa baru SD Muhammadiyah Gantung, dan para orang tua atau wali. Kebahagiaan dan rasa haru pun tampak jelas di wajah Pak Harfan dan Bu Muslimah. Selama kegiatan belajar dan mengajar yang mereka lalui, didampingi pula oleh seorang guru dengan dedikasi yang tinggi akan ranah pendidikan, yaitu Bu Muslimah. Ia mempunyai kepribadian yang sangat baik, sabar, piawai dalam mengajari murid-muridnya belajar, penyayang, dan sebagainya. Di dalam kisah inilah, Bu Muslimah yang telah memberi julukan kepada kesepuluh anak tersebut sebagai Laskar Pelangi. Tidak hanya Bu Muslimah, ada Pak Harfan Effendi Noor yang bersedia merangkap jabatan, yakni guru sekaligus Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Gantung. Penyampaian materi ajar yang disampaikan oleh Pak Harfan kerap kali menyelipkan kisah teladan nabi dan rasul. Di novel ini, kisah perjalanan para anggota Laskar Pelangi dalam menjalankan pendidikan di SD Muhammadiyah Gantung ditemani oleh berbagai ragam emosional, mulai dari rasa bahagia, dramatis, hingga mengharukan sekalipun. Penasaran akan perjalanan kisah Ikal dan para sahabat Laskar Pelanginya? Ikuti kisah mereka di novel Laskar Pelangi. SANG PEMIMPI Bagi Ikal dan Arai, kemiskinan boleh mengambil segalanya, kecuali satu mimpi. Mereka letakkan mimpi setinggi-tingginya. Dua anak kuli timah itu mencurahkan segenap tenaga. Meskipun demikian, manisnya hidup tak boleh lalai dilewatkan. Di sela kesibukan belajar di sekolah menengah, selalu saja ada celah untuk menikmati masa remaja. Mencuri-curi waktu menonton bioskop, mengejar cinta pertama, adalah sekian dari kisah mereka. Namun, satu hal tak pernah terlupa, impian yang telah lama bersemayam dalam diri. Penokohan dalam Novel Laskar Pelangi 1. Ikal Ikal adalah tokoh Aku’ di dalam novel ini. Ikal selalu menduduki peringkat kedua dan mempunyai teman sebangku, yakni Lintang. Bisa dikatakan, Ikal adalah anak terpandai di Laskar Pelangi. Ia menaruh minat dalam bidang sastra, hal itu tampak dalam kesehariannya yang gemar menulis sajak atau puisi. Ia menyukai seorang wanita yang merupakan sepupu dari A Kiong, bernama A Ling yang pertama kali dijumpainya di toko kelontong Toko Sinar Harapan. Hingga akhirnya, A Ling pergi ke Jakarta untuk menemani sang bibi sehingga hubungan mereka berdua diharuskan berpisah akibat jarak. 2. Lintang Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Lintang adalah teman sebangku Ikal. Lintang memiliki ayah yang bekerja sebagai seorang nelayan miskin. Akan tetapi, sang ayah harus menanggung kehidupan keluarganya yang terdiri dari 14 orang. Lintang adalah anak yang mempunyai minat besar dalam menempuh pendidikan dan genius. Hal itu tampak saat hari pertama berada di sekolah tersebut ia memiliki semangat tinggi dan kegeniusan otaknya menghantarkan tim SD Muhammadiyah menjadi juara dalam kompetisi cerdas cermat. Dirinya kerap aktif di dalam kelas dan bercita-cita menjadi seseorang yang ahli dalam bidang matematika. Meskipun ia kelewat pintar, lelaki berambut ikal merah ini pernah salah membawa alat sekolah. Ia terpaksa mengubur cita-citanya sejak ayahnya meninggal dunia. Dengan begitu, ia bekerja keras agar dapat membiayai kebutuhan dirinya dan keluarga. 3. Sahara Sahara adalah satu-satunya anggota perempuan di dalam Laskar Pelangi. Sahara merupakan gadis yang keras kepala, mempunyai pendirian yang kuat, dan patuh terhadap agamanya. Ia merupakan gadis pandai, baik, dan ramah kepada siapapun, terkecuali A Kiong. Hal itu karena sejak mereka masuk sekolah, sudah ia basahi menggunakan air dalam termosnya itu. 4. Mahar Mahar adalah pria tampan berbadan kurus yang mempunyai minat dan bakar pada bidang seni. Hal itu terbukti saat Bu Muslimah yang memintanya untuk bernyanyi di kelas ketika pelajaran seni suara. Mahar, si penyuka okultisme ini, kerap kali dipojokkan oleh kawan-kawannya. Saat dewasa, ia sempat menganggur, dirinya tidak dapat ke manapun sebab ibunya sering sakit-sakitan. Namun, siapa sangka, ia diajak oleh petinggi untuk membuat dokumentasi permainan anak berbau tradisional, setelah membaca tulisan artikel yang ia muat di sebuah majalah. Sampai akhirnya, dirinya berhasil menerbitkan sebuah novel bertemakan persahabatan. 5. A Kiong A Kiong merupakan anak Hokian keturunan Tionghoa, pengikut sejati Mahar sedari kelas satu. A Kiong beranggapan bahwa Mahar merupakan master atau suhunya yang mulia. Adapun pria mungil ini mempunyai jiwa persahabatan yang kuat dan tinggi, berbaik hati, serta menolong terhadap sesama, terkecuali Sahara. Walaupun mereka kerap bertengkar, nyatanya A Kiong dan Sahara saling mencintai satu sama lain. 6. Syahdan Syahdan anak seorang nelayan, ia ceria, tetapi tidak pernah menonjol. Bisa dibilang, apabila ada sesuatu, ia paling tidak mendapatkan perhatian. Contohnya, saat memainkan sandiwara, dirinya hanya menjadi seorang tukang kipas putri dan itu juga masih ada saja kesalahan yang diperbuatnya. Syahdan menjadi saksi bisu cinta pertama Ikal. Ia dan Ikal yang bertugas membeli kapur di kelontong “Toko Sinar Harapan” sejak Ikal jatuh hati pada A Ling. Tidak sangka, rupanya Syahdan mempunyai cita-cita yang tidak terkirakan oleh anggota Laskar Pelangi, yakni menjadi seorang aktor. Pada akhirnya, dengan berbagai usaha kerasnya, ia menjadi seorang aktor sungguhan, walaupun sekadar berperan kecil, seperti jin atau tuyul. Namun, dirinya merasa bosan, kemudian mengikuti kursus komputer hingga sukses menjadi network designer. 7. Kucai Kucai selalu menjadi ketua kelas saat generasi Laskar Pelangi. Kucai menderita rabun jauh sebab kekurangan gizi, bahkan penglihatannya tidak tepat pada sasaran sekitar 20 derajat. Apabila sedang menatap ke arah Borek, ia akan tampak memperhatikan ke arah Trapani. Sejak kecil, Kucai terlihat dapat menjadi seorang politikus. Sampai akhirnya, hal itu terbukti saat dirinya dewasa, yaitu menjadi ketua fraksi di DPRD Belitung. 8. Borek Borek adalah pria besar penggila otot. Ia selalu menjaga citranya sebagai pria macho berotot. Saat dewasa pun, dirinya menjadi seorang kuli di toko milik Sahara dan A Kiong. 9. Trapani Ia adalah pria tampan, pandai, baik hati, dan amat mencintai sang ibu. Hal apapun yang Trapani lakukan, kerap didampingi oleh ibunya. Hal itu terlihat saat mereka hendak tampil sebagai band yang dikomandoi Mahar, tetapi Trapani enggan tampil apabila ibunya tidak menontonnya. Pria yang memiliki cita-cita sebagai guru ini, nahasnya berakhir di rumah jiwa sebab kebergantungan dirinya akan sang ibu.. 10. Harun Harun mempunyai keterbelakangan mental, memulai sekolah dasarnya saat berusia 15 tahun. Ia sangat jenaka, hal itu terjadi saat dirinya sedang menceritakan kepada Sahara terkait kucingnya yang mempunyai belang tiga dan melahirkan tiga anak yang mana masing-masing berbelang tiga pula di tanggal tiga. Tak hanya itu, ia juga gemar menanyakan hari libur lebaran pada Bu Muslimah dan saat pelajaran karya seni di kelas enam, dirinya hanya menyetorkan 3 buah botol kecap. 11. Bu Muslimah Perempuan dengan nama lengkap Muslimah Hafsari ini, merupakan seorang guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Bu Muslimah sangatlah piawai dan gigih dalam mengajar walaupun honornya belum dibayar. Ia memiliki dedikasi tinggi di ranah pendidikan, terlebih menjadi pengajar di sekolah Islam tersebut. Bu Muslim sangat menyukai bunga, berpendirian maju dan terbuka akan gagasan baru, berbaik hati, serta termasuk orang yang sabar. 12. Pak Harfan Pak Harfan memiliki nama lengkap Harfan Efendy Noor. Ia merangkap jabatan sebagai Kepala Sekolah dan guru di SD Muhammadiyah. Ia dengan Bu Muslimah tetap mempertahankan sekolah tersebut yang hampir ditutup sebab kekurangan murid atau siswa. Pak Harfan mempunyai dedikasi yang cukup tinggi akan pendidikan. SIRKUS POHON Dalam novel ini Andrea akan membuat kita terbahak-bahak mengikuti kisah orang-orang Melayu di pedalaman Belitong yang lugu, tersedu-sedu oleh kisah cinta yang masygul, atau geleng-geleng kepala oleh intrik-intrik mereka yang luar biasa. Kita akan menemukan manusia-manusia yang tak sempurna, sekaligus menemukan kebijaksanaan dalam diri mereka. Keunggulan Novel Laskar Pelangi Salah satu keunggulan yang berhasil disajikan dalam novel ini oleh sang penulis–Andrea Hirata–adalah berada pada ragam bahasa yang khas dan unik. Dalam karyanya ini, Andrea Hirata mencoba untuk menuangkan nuansa kultur dari masyarakat Melayu, kemudian adanya aspek sosial dan budaya yang direpresentasikan secara gamblang di dalam dialog-dialognya. Pernah pada suatu kesempatan, Andrea Hirata mengatakan bahwa cara dirinya menulis novel ini, yakni karena terinspirasi dari cara berceritanya masyarakat Melayu. Kelihaian sang penulis dalam merangkai suatu kesedihan menjadi humor yang layak untuk dijadikan bahan tawa, tertuang cukup apik di novel Laskar Pelangi. Hal itu terlihat saat dialog yang terjadi di antara para anggota Laskar Pelangi dan masyarakat Belitung. Selain itu, di dalam novel Laskar Pelangi banyak memuat pesan positif, di antaranya ketekunan, ketabahan, sikap pantang menyerah, keberanian untuk bermimpi dan memperjuangkannya, serta yang lainnya. Dalam novel ini pula, terdapat pentingnya untuk menekuni pendidikan sekolah dan mempunyai moral agama yang kuat. Novel ini menjadi bahan bacaan wajib bagi kaum muda yang kerap kali bersenang-senang akan kemudahan ekonomi dan tidak mengenal susah payahnya merintis kehidupan dari nol untuk menggapai masa depan gemilang. Tidak hanya kaum muda, novel Laskar Pelangi juga sangat bagus untuk dibaca oleh tenaga pendidik dan pemerintah yang lalai akan pentingnya ranah pendidikan. Hasil dari kelalaian itu, seperti tidak jarang pula bangsa ini mendapati berbagai macam ejekan atau sindiran dari bangsa lain sebab bangsa ini mempunyai sumber daya manusia dengan kualitas yang kurang kompeten. Kemudian, poin yang tak kalah pentingnya adalah novel ini mengusung masalah sosial dan ekonomi yang mana hal itu sangatlah relevan dengan kehidupan, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan mendatang. Hal tersebut, di antaranya terkait kemiskinan, pendidikan, kesenjangan sosial masyarakat, dan sebagainya. Bahkan, permasalahan atau isu tersebut bukan hanya relevan di Indonesia, melainkan di negara-negara lain pula. Kelemahan Novel Laskar Pelangi Kelemahan novel Laskar Pelangi berada pada penggunaan berbagai istilah yang jarang dijumpai oleh pembaca sehingga akan sangat sukar untuk dimengerti dan dipahami atas apa yang disampaikan oleh penulis. Walaupun terdapat glosarium atas diksi-diksi yang sulit dipahami, tetapi diletakkan di akhir novel sehingga saat membaca novel tersebut akan terasa kurang praktis. Selain itu, kelemahan lainnya terletak pada ending cerita yang membingungan dan cenderung menggantung. Mengapa? Pertama, akhir cerita membingungkan karena tokoh “Aku” yang semulanya Ikal, secara tiba-tiba berubah menjadi orang lain. Kedua, ceritanya cenderung menggantung karena memunculkan rasa penasaran dan ketidakpuasan di akhir cerita. Akan tetapi, tampaknya hal itu sengaja dilakukan oleh penulis sebab cerita dari Laskar Pelangi ini dilanjutkan pada sekuel berikutnya. GURU AINI Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, lazimnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk. Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok? Amanat dan Kesimpulan Resensi Novel Laskar Pelangi Berdasarkan kisah dari novel Laskar Pelangi, tentunya banyak pelajaran yang dapat diambil dan diterapkan di kehidupan sehari-hari, di antaranya kita harus bersyukur akan pemberian Tuhan, menghargai pentingnya hidup ini, tidak mudah menyerah dan berusaha sebisa mungkin apabila menginginkan sesuatu. Tak hanya itu saja, kepintaran bukanlah menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Hal itu dapat terlihat dari kisah tokoh Lintang di novel ini, ia adalah anak yang pintar. Akan tetapi, di akhir cerita, ia menjadi seorang sopir truk. Berdasarkan kisah si Lintang, kita sebagai pembaca dapat mengambil hikmah bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, apabila kita sudah berusaha semaksimal mungkin atas apa yang kita impikan, tetapi hal tersebut tidak terwujud, jangan lupa untuk terus bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan tetapkan. Itulah Resensi Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Apabila Grameds tertarik dan ingin mencari novel karya Andrea Hirata lainnya ataupun mencari buku pengetahuan, tentu kalian bisa temukan, beli, dan baca bukunya di dan Gramedia Digital karena Gramedia senantiasa menjadi SahabatTanpaBatas bagi kalian yang ingin menimba ilmu. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kalian, ya! Penulis Tasya Talitha Nur Aurellia Sumber dari berbagai sumber
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan. Di Indonesia masih banyak daerah yang masih belum terjamin akan pendidikannya. Seperti kurangnya fasilitas maupun orang yang bisa mengajar ke daerah daerah halnya cerita yang di suguhkan dalam Film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi adalah bagian pertama dari tetralogi oleh Andrea Hirata berdasarkan pengalaman hidupnya. Walaupun termasuk autobiografi, tetapi Andrea Hirata menggunakan nama fiksi dalam tentang 10 anak yang bersekolah di sebuah pondok sekolah dasar, di Belitong. Bersetting pada tahun 1970-an, Ikal adalah seorang siswa di sekolah desa termiskin di pulau Belitong Indonesia. Di sana, jika kita lulus dari kelas 6 SD, itu sudah dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa. Karena sekolahnya selalu berada di bawah ancaman penutupan. Ikal dan teman-temannya dijuluki sebagai Laskar Pelangi. Mengapa? Karena mereka menghadapi ancaman dari segala sudut. Mulai dari pejabat pemerintah yang skeptis, perusahaan yang serakah, kemiskinan, infrastruktur yang hancur, dan kepercayaan diri mereka yang rendah. Mereka, Laskar Pelangi, nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Terdapat berbagai macam nilai kehidupan yang terkandung dalam film ini. Nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Seperti nilai sosial, nilai yang dianut oleh suatu masyarakat mengenai perilaku apa yang dianggap baik dan perilaku apa yang dianggap buruk oleh masyarakat tersebut. Tidak hanya itu, film ini juga menonjolkan banyak amanat mengenai kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan di Pulau Belitong. Film ini juga berhasil memperlihatkan keindahan Pulau Belitong kepada para penonton. Dengan memaparkan alur dengan sangat rapi dan natural yang memperlihatkan kepolosan 10 anak laskar pelangi membuat ceritanya sangat bagus disertai dengan natural nya. Namun, masih terdapat kekurangan dalam menyelesaikan alur tersebut. Dimana pada film tersebut, banyak adegan yang ada pada novelnya yang tidak ditayangkan dalam filmnya. Dan para penonton dibuat penasaran pada akhir kisah 10 anak dalam Film Laskar Pelangi tersebut. Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
POTRET PENDIDIKAN DI TENGAH KEMISKINAN DALAM “LASKAR PELANGI” OLEH Miftakhul Jannah – 100211406110 Pendidikan telah menjadi hal yang penting untuk mencerdaskan generasi bangsa. Pendidikan tersebut bisa diperoleh di pendidikan formal maupun informal. Ironisnya, kualitas pendidikan di Indonesia belum begitu memuaskan. Beberapa hal seperti kurikulum masih sering mengalami perubahan, tentunya menuju perubahan yang lebih baik. Kendati demikian, pendidikan di Indonesia masih saja menemukan kekurangan. Kekurangan tersebut terlihat dari biaya pendidikan yang sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini membuat generasi muda yang seharusnya memperoleh pendidikan yang baik tetapi justru terlantar. Berbicara soal pendidikan, maka perlu dipahami terlebih dahulu arti pendidikan. Dalam KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Di dalam pendidikan tentunya terdapat nilai, baik nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan agama, maupun nilai pendidikan moral. Tulisan ini akan membahas potret pendidikan di tengah kemiskinan dalam “Laskar Pelangi” yang di dalamnya tentu terdapat beberapa nilai pendidikan yang bisa dijadikan sebagai perenungan dan teladan. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa nilai adalah sesuatu berharga yang terkandung dalam sesuatu hal yang bisa digunakan sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kupperman dalam Mulyana 2004 9 menafsirkan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif. Ia memberi penekanan pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia. Oleh karena itu, salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat. Laskar Pelangi’ merupakan sebuah novel yang banyak memuat nilai pendidikan. Nilai pendidikan tersebut mampu memotret pendidikan di tengah kemiskinan rakyat Belitong. Belitong adalah daerah yang kaya tetapi kekayaannya telah dirampas oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Hal ini membuat kehidupan rakyatnya harus bergelut dalam kemiskinan. Sehingga pendidikan di daerah ini menjadi terbengkelai dan berbenturan dengan masalah ekonomi. Masyarakat Belitong enggan menyekolahkan anak-anak mereka. Hal ini karena mereka memang tidak memiliki biaya dan lebih suka anaknya bekerja guna membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Lalu, apakah pantas anak di bawah umur dipaksa untuk bekerja? Jawabannya tentu tidak. Melihat situasi dan kondisi seperti itu, datanglah sosok guru teladan yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah. Mereka berdua berjuang untuk mempertahankan pendidikan yang ada di Belitong. Dengan sepenuh hati tanpa pamrih, mereka menyumbangkan ilmu kepada murid-muridnya. Murid-murid tersebut adalah sepuluh anak yang oleh gurunya diberi julukan Laskar Pelangi. Mereka sama-sama berasal dari keluarga miskin, tetapi mereka berasal dari kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Ada anak buruh pabrik, ada anak nelayan, ada anak Tionghoa kebun, ada yang sangat pandai di bidang ilmu matematika, ada yang sangat pandai di bidang ilmu seni, ada yang hanya bisa tersenyum sepanjang hari. Semuanya menjadi satu kelompok dalam Laskar Pelangi. Mereka saling mendukung, saling menguatkan demi pengembangan diri. Tidak ada yang merasa lebih baik atau berusaha untuk menjadi berkuasa. Berikut kutipan ceritanya. “Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu Belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu” halaman 3—4. “Agaknya selama keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya” halaman 11. “Namun sayang A Kiong hanya menjawabnya dengan kembali tersenyum. Ia berkali-kali melirik bapaknya yang kelihatan tak sabar. Aku dapat membaca pikirang ayahnya, “Ayolah anakku, kuatkan hatimu sebutkan namamu! Paling tidak sebutkan nama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian! Bapak Tionghoa berwajah ramah ini dikenal sebagai seorang Tionghoa kebun, strata ekonomi terendah dalam kelas sosial orang-orang Tionghoa di Belitong” halaman 26. Anggota Laskar Pelangi memang berasal dari keluarga miskin. Akan tetapi, di tengah kemiskinan tersebut mereka memiliki daya juang yang tinggi dan memiliki loyalitas yang baik dalam hal pendidikan. Daya juang tersebut tidak dapat dilepaskan dari sosok Lintang. Sosok pribadi seperti Lintang itulah yang menggambarkan sosok pribadi yang penuh dengan daya juang tinggi, penuh semangat, dan pantang menyerah untuk mewujudkan cita-citanya. Jarak tempuh puluhan kilometer ia lalui tiap hari dengan setia dan tanpa mengeluh sedikitpun. Tak sekalipun ia membolos. Sepeda Onthel warisan keluarga adalah alat transportasi darat sekaligus sungai, karena jalanan kerap berubah menjadi sungai jika hujan telah turun. Tak jarang jalanan menjadi tempat berjemur bagi buaya. Tantangan itu tidak menyurutkan langkah Lintang untuk berangkat ke sekolah. Sepeda onthel yang telah tua, rantai yang terkadang putus dan tidak bisa disambung lagi, ban bocor, itu semua belum cukup untuk mencegah langkah Lintang berangkat ke sekolah. Rumah Lintang paling jauh dari pada 9 temannya yang lain. Meski demikian dialah siswa yang paling rajin di sekolah itu. Semakin besar tantangan yang ada, semakin besar pula semangat Lintang untuk belajar. Siapa tahu ini adalah saat terakhir untuk belajar. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Lintang. Jangan pernah menunda untuk belajar, karena bisa jadi kita tak sempat lagi mengetahuinya. Berikut ini nukilan ceritanya. “Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak mempunyai uang sepeserpun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat puting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak pernah bolos” halaman 94. Nukilan tersebut menggambarkan bahwa Lintang adalah pribadi yang gigih dalam mencari ilmu. Segala upaya ia tempuh untuk bisa sampai di sekolahnya tercinta, SD-SMP Muhammadiyah. Belajar dari SD-SMP Muhamamdiyah, tempat Lintang, Ikal dan kawan-kawannya belajar, di sana setiap anak dikembangkan sesuai dengan bakatnya. Memang ini adalah bagian tersulit dalam pendidikan, yaitu membantu menemukan identitas diri peserta didik. Misalnya Lintang. Ia langsung dikenal sebagai anak yang super jenius karena mampu menjawab seluruh pertanyaan matematis dengan cepat tanpa menggunakan alat bantu. Namun, bakat-bakat yang lain akan sulit ditemukan. Misalnya saja, ada anak yang memiliki bakat luar biasa dalam musik, tetapi jika ia tidak pernah menyentuh alat musik, ia tidak akan pernah diketahui sebagai pemusik handal. Berikut ini cuplikan ceritanya. “Ketika sampai pada Bab Ilmu Ukur ia tersenyum riang karena nalarnya demikian ringan mengikuti logika matematis pada simulasi ruang berbagai dimensi. Ia dengan cepat segera menguasai dekomposisi tetrahedral yang rumit luar biasa, aksioma arah, dan teorema phytagorean. Semua materi ini melampaui tingkat usia dan pendidikannya” halaman 101—102. “Tak dinyana, beberapa menit yang lalu, ketika Bu Mus menunjuk Mahar secara acak untuk menyanyi, saat itulah nasib menyapanya. Itulah momen nasib yang sedang bertindak selaku pemadu bakat. Siang ini, komidi putar Mahar mulai menggelinding dalam velositas yang bereskalasi” halaman 138. Pendidikan harus membantu setiap pribadi untuk mengembangkan dirinya. Lintang dan Mahar dalam novel ini adalah gambaran yang sempurna untuk mendefinisikan kecerdasan. Keduanya sama-sama cerdas dalam bidangnya masing-masing. Lintang tidak mungkin diubah atau sekedar diarahkan untuk menjadi seperti Mahar, Demikian pula sebaliknya. Keduanya bisa disatukan dan akan menghasilkan karya yang luar biasa. Maka tugas guru bukanlah sekedar tukang transfer ilmu. Ia mesti juga menjadi seorang pemandu bakat, yang membantu seseorang menemukan jati dirinya. Apabila dilihat dari sampulnya, novel “Laskar Pelangi” ini memiliki arti bahwa warna hitam pada sampul menggambarkan kesedihan melihat kehidupan rakyat Belitong yang serba kekurangan di tengah kekayaan alam yang melimpah ruah. Rakyat Belitong ibarat budak yang bekerja di tempat kelahirannya sendiri dan orang Gedong ibarat majikan yang tidak peduli dengan kesejahteraan pekerjanya. Sedangkan warna pelangi pada sampul tersebut menggambarkan keberagaman suku/ras, bakat/minat yang dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam novel “Laskar Pelangi”. Warna-warni pelangi tersebut menggambarkan bahwa keberagaman itu indah layaknya pelangi yang beragam warna dan tetap indah dipandang mata. Dengan keberagaman kita bisa saling melengkapi satu sama lain tanpa adanya rasa paling pintar atau paling berkuasa. Sementara itu, gambar orang yang terdapat dalam sampul tersebut mengambarkan anggota Laskar Pelangi itu sendiri, yakni Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun. Isi dalam cerpen ini patut dijadikan sebagai renungan agar kita senantiasa tidak mudah berputus asa dalam meraih suatu impian. Karena dimana ada kemauan pasti akan ada jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Sesulit apapun jalan yang akan dilalui harus senantiasa berusaha dan berdoa. Demikianlah potret pendidikan di tengah kemiskinan dalam “Laskar Pelangi”. Pendidikan yang ada terlihat sangat sulit dikembangkan dan memerlukan kerja keras untuk bisa mengembangkannya di tengah-tengah kemelut kemiskinan yang senantiasa menjadi bayang-bayang suram. Sumber Mulyana, R. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung Alfabeta. Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta. Sinopsis LASKAR PELANGI Cerita dalam novel “Laskar Pelangi” diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, yakni Andrea Hirata. Novel ini menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin di kampung Belitong. Anak orang-orang kecil’ yang mencoba memperbaiki masa depan mereka melalui pendidikan yang ala kadarnya. Perjalanan pendidikan tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Laskar Pelangi” dimulai dari SD Muhammadiyah. SD Muhammadiyah tampak begitu rapuh dan menyedihkan dibandingkan dengan sekolah PN Timah Perusahaan Negara Timah. Mereka tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah kelahiran mereka. Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin. Mereka berdua berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan 15 kilo beras per bulan, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan. Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP Sekolah Kepandaian Putri telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu. Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani dalam menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai Laskar Pelangi. Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhammadiyah mengikuti festival karnaval yang diketuai oleh laskar pelangi dan mereka mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN Timah. Beberapa waktu kemudian, keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi Ikal, Lintang, dan Sahara berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah PN Timah dan sekolah-sekolah negeri lainnya. Prestasi tersebut merupakan suatu prestasi yang puluhan tahun selalu diboyong sekolah PN Timah. Setelah beberapa keajaiban hadir di SD Muhammadiyah, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah, yakni ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal hanya butuh waktu satu triwulan untuk menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga, sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga. Sementara itu, disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya. Akhirnya pada awal tahun 90-an sekolah Muhammadiyah ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri. Akan tetapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi.