APAKAHMAKNANYA karya : Sutan Takdir Alisjahbana Ani, Aniku, di mana engkau? Mana suaramu, mana gelakmu? Ya Allah, ya Tuhanku, 'Langkah lekas 'Kau ambil, 'Kau renggutkan dari sisiku. Apakah dosa maka begini Merpati Putih di 07.30. Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest. Label
KumpulanPuisi Sutan Takdir Alisjahbana (STA) - Sutan Takdir Alisjahbana (STA) lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908. Beliau merupakan tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli tata Bahasa Indonesia. AKU DAN TUHANKU Tuhan, Kau lahirkan aku tak pernah kuminta Dan aku tahu, sebelum aku Kau ciptakan Sinopsis Novel Rumah Kaca Karya
analisisstruktural puisi "aku dan tuhanku" karya sutan takdir alisjahbana
SaatDeddy Mizwar Bacakan Puisi Sutan Takdir Alisjahbana Selalu Hidup. Jumat, 19 Oktober 2018 13:52 WIB.
ViewMengapresiasi puisi Muhammad Yamn dan sutan CIS MISC at State University of Manado. TUGAS APRESIASI PUISI "Mengapresiasi puisi Mohammad Yamin dan puisi Sutan Takdir
Pembacaanpuisi Aku dan Tuhanku karya Sutan Takdir Alisyahbana dalam bentuk video. Video tersebut cocokpedia ambil dari youtube channel totemo yeppo. Pembacaan puisi tersebut diunggah pada 13 Mei 2020. Berikut puisi (poetry) Aku dan Tuhan teksnya secara lengkap. AKU DAN TUHANKU Karya Sutan Takdir Alisyahbana Tuhan, Kau lahirkan saya tak pernah
PUISIPUISI SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA. Sabtu, 15/02/2014 - 11:11 — SIHALOHOLISTICK. Aku dan Tuhanku (Video) Sabtu, 20/10/2012 - 14:55 Video Pembacaan Puisi | Dian Sastrowardoyo; Dian Sastrowardoyo membaca puisi "Aku dan Tuhanku" karya Sutan Takdir Alisjahbana pada acara "100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana" Tambah
BUKU PUISI BARU BY SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan.
SastraPujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis. Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk.
TuMx7. Oke kali ini saya akan menjelaskan tentang suatu puisi yang sangat fenomenal, AKU karya sang maestro sastra Chairil Anwar . “AKU” KARYA CHAIRIL ANWAR Kalau sampai waktuku Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Ø Penggunaan Bahasa Dalam pengungkapan puisi diatas penyair menggunakan bahasa yang khas yaitu pemberani yang ingin bebas dari semua ikatan disana .Penyair tidak mau terhasut rayuan dari siapapun. Dia tetap pada pendiriannya yang ingin berkreasi, contoh pada syair Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Ø Pilihan Kata/Persamaan Bunyi Ciri khas puisi yang lain juga dapat dilihat dari pilihan kata/ persamaan bunyi dan persajakan. Misalnya pada syair Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Dalam penggalan puisi diatas, dapat dijumpai persamaan bunyi sebagai berikut Rima akhir dijumpai pada kata waktuku , merayu , kau , itu Bunyi Vocal Asonansi terdapat pada syair Tak perlu sedu sedan itu . terdapat bunyi Aku ini binatang jalang . terdapat bunyi Diksi pilihan kata pada syair Kalau sampai waktuku Dalam kutipan syair puisi diatas penyair lebih memilih kata “Kalau sampai waktuku “ . Maksudnya, jika dia telah sampai pada waktunya wafat, dia tidak mau ada seorangpun yang merayunya karena itu semua tidak penting bagi penyair. Majas Dalam puisi diatas terdapat majas hiperbola pada syair Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang ...................................... Aku mau hidup seribu tahun lagi Ø Makna Kiasan Konotatif Pada Setiap Bait Bait Pertama Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Pada bait ini tertulis keyakinan pengarang yang sangat bulat terhadap apa yang diyakininya, sehingga tak bisa dirayu siapapun. kata "kau" menggambarkan seorang yang dekat atau bisa menjadi siapa saja. Bahkan merayupun tidak diinginkan oleh pengarang Bait Kedua Tak perlu sedu sedan itu Dalam bait ini sebenarnya penulis bukan bermaksud menghibur siapapun yang merayunya, tapi hal ini bermaksud bahwa penulis tidak akan goyah meskipun dirayu dengan cara apapun. Bait Ketiga Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Penulis mengakui bahwa dirinya bukanlah sesuatu yang penting, maka ia tidak perlu dibujuk atau dirayu oleh siapapun. Bait Keempat dan Kelima Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Disini, penulis menggambaarkan bahwa keyakinan dan tekadnya sangat bulat. Meski beribu rintangan dan halangan menghadang, tapi penulis tetap memegang teguh keyakinannya. Bait Keenam dan Ketujuh Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Pada kalimat ini, peulis menekankan bahwa dirinya tidak peduli dengan semua rintangan yang dihadapinya. Ø Tema Tema puisi ini adalah perjuangan. Seperti pada kalimat di bawah ini Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Sumber
Biografi Sutan Takdir Alisyahbana Sutan Takdir Alisyahbana selanjutnya disingkat STA dilahirkan di Natal, Tapanuli, Sumatera Utara pada tanggal 11 Februari 1908. STA adalah anak kedua dari dua belas bersaudara. Ibunya asli orang Natal tetapi bukan dari suku Mandailing atau Batak melainkan dari suku Minangkabau. Ayahnya berdarah Jawa, bernama Raden Alisjahbana, gelar Sutan Arbi. Gelar “Raden” itu suatu ketika diakui oleh Kesultanan Yogyakarta. Sang ayah adalah seorang guru yang juga bekerja sebagai penjahit, pengacara tradisional, ahli reparasi jam serta pemain sepakbola. Sementara itu, kakeknya dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, adalah ulama besar dengan pengetahuan agama dan hukum yang mendalam. Semasa hidupnya, STA mempunyai tiga istri. Dari ketiga istrinya itu ia kemudian menjadi ayah dari sembilan anak. Pada masa kanak-kanak STA sempat merasa malu oleh ejekan temantemannya. Dia lahir dengan empat jari di tangan kiri yang cacat karena itu ia diberi nama “Takdir”. Dengan cacatnya itu, seperti dituturkan Tamalia Alisyahbana putri STA pada peringatan 100 tahun kelahiran STA, ia selalu menyembunyikan tangannya di kantong atau dengan sapu tangan Cerita Sampul, Majalah TEMPO Edisi 25 Februari 2008. Umur empat tahun STA meninggalkan Natal dan mengikuti ayahnya yang pindah ke Bengkulu. “Ayah saya guru SD di Semangka yang terletak di Teluk Semangka. Dia lalu pindah ke Curup, lalu ke Kerkap kira-kira 25 kilometer dari Bengkulu. Di Kerkap itulah saya sekolah di Hogere Indische School HIS Bengkulu,” tutur STA pada suatu ketika Cerita Sampul, Majalah TEMPO Edisi 25 Februari 2008. Waktu itu Bengkulu menjadi tempat orang buangan, termasuk para bangsawan dari tanah Jawa seperti Sentot Prawirodirdjo, salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro. Ayah STA sendiri diangkat sebagai penjaga makam Sentot. Walau kiriman uang dari ayahnya selalu terlambat dan tak punya buku, pendidikannya berjalan lancar. Setamat dari HIS pada 1921 STA melanjutkan pendidikan di Kweekschool Bukittinggi dan lulus pada 1925. Pada 1925 ia dikirim ke Hogere Kweekschool di Bandung setahun sebelum menamatkan kelas terakhir. Lalu STA masuk Hoofdacte Cursus Jakarta yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Gelar meester in de rechten Mr ia raih dari sekolah tinggi kehakiman Rechtshogeschool Jakarta pada tahun 1941. Ia sempat pula menempuh pendidikan di Letterkundige Fakulteit Jakarta pada tahun 1942. Di Jakarta, terutama ketika bekerja untuk Balai Pustaka, STA bertemu dengan banyak intelektual Hindia Belanda pada masa itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya menjadi rekan terdekatnya adalah Armin Pane. Setelah Indonesia merdeka STA berkesempatan memperluas cakrawala intelektual dengan belajar filsafat ke Jerman, Belanda, Prancis, Amerika Serikat, dan Jepang. Pada 1948 STA pergi ke Amsterdam untuk menghadiri Kongres Filsafat. Karier sebagai sastrawan telah ia mulai sejak usia remaja. Karangan pertamanya, Tani Briefen Surat Petani dimuat di majalah Jong Soematera. Ketika itu STA berumur 15 tahun dan duduk di bangku kelas tiga sekolah guru di Muara Enim. Novel pertamanya Tak Putus Dirundung Malang 1929 diselesaikan di Bandung setelah dia menderita sakit jantung selama tiga bulan dan diterbitkan Balai Pustaka dengan honor 250 gulden. Salah satu karyanya yang terkenal adalah novel Layar Terkembang 1936 yang bercerita tentang emansipasi wanita, disusul Grotta Azzura 1979 serta Kalah dan Menang 1978 yang berbicara masalah filsafat kebudayaan. Mengomentari Kalah dan Menang dalam sebuah artikel di majalah Tempo edisi Oktober 1978, Poeradisastra mengatakan belum pernah ada sebuah roman Indonesia yang mengambil tema sebesar dan seluas roman STA. Roman itu memuat sejumlah tokoh bersejarah yang benar-benar ada, meski ditransmutasikan memakai nama-nama lain. Selain prosa, STA banyak menulis puisi, antara lain Tebaran Mega kumpulan sajak, 1935, Lagu Pemacu Ombak kumpulan sajak, 1978, dan Perempuan di Persimpangan Zaman kumpulan sajak, 1985. Di bidang sastra STA adalah tokoh angkatan Pujangga Baru. Ia menerbitkan sekaligus memimpin majalah Pujangga Baru, majalah Indonesia pertama untuk bidang sastra dan budaya. STA menolak sastra lama yang berupa pantun dan syair, dan menawarkan sastra baru berupa soneta. “Kita buang dan lupakan saja sastra lama dan kita bangun sastra yang baru,” ujarnya. Ketika memimpin Panji Pustaka, ia mengadakan gerakan “Sastra Baru” pada 1933. Berlatar pendidikan guru, STA pernah selama setahun menjadi guru HKS di Palembang 1928-1929. STA juga menjadi dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di Universitas Indonesia mulai tahun 1946 hingga tahun 1948. Ia juga menjadi guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional Jakarta semenjak tahun 1950 sampai tahun 1958. STA pernah menjadi guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas Padang 1956-1958, dan Guru Besar serta Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya Kuala Lumpur 1963-1968. Sejak 1968 hingga 1990-an ia menjadi Rektor Universitas Nasional Jakarta. Dari 1970-1994 ia menjadi Ketua Akademi Jakarta. STA pernah menjabat Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali 1973-1994 dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya 1979-1994. STA sempat pula terjun di gelanggang politik sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia PSI, anggota parlemen 19451949, anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante 1950-1960. “Saya duduk di Konstituante mewakili Sumatera Selatan dari PSI. Di Konstituante ada perdebatan saya dengan Mohammad Natsir dari Masyumi. Waktu itu saya mempertahankan sosialisme yang demokratis. Sosialisme demokrat menghendaki negara demokrasi yang sekuler. Manusia bebas beragama,” tutur STA Cerita Sampul, Majalah TEMPO Edisi 25 Februari 2008. Ia juga menjadi anggota organisasi internasional, termasuk Masyarakat Linguistik Paris Societe de Linguistique de Paris dan Komisi Internasional untuk Pengembangan Ilmiah dan Budaya Manusia dan Studi Kemanusiaan UNESCO. Berbagai penghargaan pernah ia terima, termasuk Satyalencana Kebudayaan RI pada 1970. Dari Kaisar Jepang Hirohito, STA menerima Bintang Tanda Jasa Harta Suci pada 1987. Ia dinilai berjasa dalam meningkatkan hubungan persahabatan IndonesiaJepang dan ikut mendirikan Pusat Studi Jepang serta membuka Jurusan Bahasa Jepang di Universitas Nasional. Republik Federal Jerman juga pernah memberinya tanda jasa. Takdir juga menerima doctor honoris causa dari Universitas Indonesia pada 1979 dan Universiti Sains Penang, Malaysia pada 1987. Satu ciri STA yang melekat dalam sejarah hidupnya adalah keteguhannya pada pemikirannya, bahkan juga melaksanakan gagasan itu dalam bentuk kerja nyata. Kegelisahannya mengenai bahasa tidak hanya berwujud pada kata-kata. Sebagai ahli bahasa, ia yang pertama kali menulis buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia 1936 dan Kamus Istilah. Ketika STA menjabat Ketua Komisi Bahasa pada masa pendudukan Jepang, ia melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Masih dalam rangka pengembangan bahasa, STA menerbitkan dan memimpin majalah Pembina Bahasa, mencetuskan Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo, dan pada akhir 1960-an dia menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan penggagas Konferensi Pertama Bahasa-bahasa Asia. Di usia senjanya, 85 tahun, beberapa bulan sebelum meninggal dunia, STA direpotkan dengan kemelut di kampus yang dipimpinnya sejak 1968 itu. Dianggap sudah tua dan terlalu lama memimpin Universitas Nasional, salah seorang pengurus yayasan, Oesman Rachman dan kawan-kawan mencoba “menggusurnya”. Bahkan, Oesman sempat mengangkat diri menjadi pejabat rektor. Akibat konflik yang berlarut-larut itu, di universitas swasta tertua di Indonesia itu sempat muncul dua kepemimpinan, bahkan dosen dan mahasiswa sempat terkotakkotak. Kemelut itu berakhir di pengadilan dan pihak STA menang. Ketua majelis hakim, Haslim Hasyim dari Pengadilan Jakarta Selatan, dalam amar putusannya pada Februari 1994 memerintahkan agar kampus itu dikosongkan dan segera diserahkan kepada Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan YMIK yang dipimpin Sutan Takdir Alisyahbana. Di luar dunia pemikiran dan tema-tema besar STA gemar berkebun. Kegemaran ini dilakoninya sejak masih muda. Karena itu, tak heran jika rumahnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan dilengkapi dengan kebun yang luas. Di sana ada durian, nanas, kedondong, jeruk. Setiap pagi sebelum masuk kantor pada pukul ia jalan-jalan di kebun rumahnya sambil mengontrol ikan-ikan di kolam. Begitu pula balai seni yang didirikannya pada 1973 di Toyabungkah, Danau Batur, Bali, diasrikan dengan kebun dan sawah yang dikerjakan oleh penduduk setempat. Setiap bulan, kala itu, di luar kesibukan rutinnya sebagai Rektor Universitas Nasional, ia menyempatkan diri terbang ke Bali untuk mengunjungi kebunnya. Balai Seni Toyabungkah ini didirikan dengan biaya yang ia peroleh dari uang ganti rugi kecelakaan dari pesawat SAS. Kampus tempat dia menjabat rektor sejak 1968, Unversitas Nasional, tak lupa juga “dikebunkan”. Bahkan, para mahasiswanya dikerahkannya untuk membuat pencangkokan dan pembibitan berbagai jenis tanaman. Suatu ketika, kepada Tempo, STA mengatakan, “Indonesia ini negeri yang kaya dan subur. Menanam apa pun bisa tumbuh. Tanamlah apa saja. Asal menanamnya benar, tentu menghasilkan banyak uang” Cerita Sampul, Majalah TEMPO Edisi 25 Februari 2008. STA meninggal pada 17 Juli 1994 di Jakarta. Sampai akhirnya hayatnya, ia belum mewujudkan cita-cita terbesarnya menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di kawasan Asia Tenggara. Padahal bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13 ribu pulau di Nusantara. Ide besarnya untuk menyatukan ejaan Indonesia dengan Malaysia pun belum terwujud. STA pernah mengatakan pada 1971 bahwa usaha menyatukan ejaan itu harus diteruskan. Sebab, menurut STA, jika peraturan ejaan ini sudah terlaksana, bukan hanya merupakan langkah penting ke arah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Asia Tenggara tetapi juga akan mempermudah penerjemahan buku-buku.[1] Pengertian Pendekatan Struktural Analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intrinsik yang dapat di gali dari karya itu sendiri. [2] Pada dasarnya kajian struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antara berbagai unsur karya sastra, dalam hal ini prosa fiksi yang secara bersama mengahasilkan sebuah kemenyeluruhan. Kajian struktual tidak cukup kalua hanya sekedar mendata unsur tertentu pada sebuah karya prosa fikis, misalnya peristiwa, alur, tokoh, latar, atau yang lainnya. Namun yang lebih penting adalah menunjukan bagiamna antar unsur itu, atau sumbangan apa saja yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kajian structural adalah sebuah pengkajian terhadap suatu karya sastra prosa fiksi yang bertujuan untuk memaparkan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra. Pada intinya pendektan struktural ialah membahas unsur-unsur intrinsik pada sebuah karya sastra.[3] Unsur puisi ada dua yaitu unsur batin puisi dan struktur fisik puisi yang meliputi Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut. Tema atau Makna Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Rasa Sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. Nada tone Sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca. Amanat Sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut Perwajahan puisi tipografi Bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Diksi Pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Imaji Kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara auditif, imaji penglihatan visual, dan imaji yang bisa dirasakan, raba atau sentuh imaji taktil. Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Kata kongkret Kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan. Bahasa figurative Bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu Soedjito, 1986128. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna Waluyo, 198783. Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Rima Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Analisis pada Puisi Api Suci Karya Sutan Takdir Alisyahbana Api Suci Selama nafas masih mengalun, Selama jantung masih memukul, Wahai api bakarlah jiwaku, Biar mengaduh biar mengeluh. Seperti wajah merah membara Dalam bakaran Nyala Raya, Biar jiwa habis terlebur, Dalam kobaran Nyala Raya. Sesak mendesak rasa di kalbu, Gelisah liar mata memandang, Di mana duduk rasa dikejar. Demikian rahmat tumpahkan selalu, Nikmat rasa api menghangus, Nyanyian semata bunyi jeritku. Bentuk dan Struktur batin puisiTema Tema yang diangkat Sutan Takdir Alisyahbana pada puisi “Api Suci” yaitu tema Doa memohon ketegaran jiwa sesuai dalam kutipan /wahai api, bakarlah jiwaku/, sehingga puisi ini termasuk puisi yang ditujukan seseorang yang sedang mengadu kepada pencipta-Nya,karena kegalauan dan ingin bangkit lagi dari kegelisahan hatinya. Rasa Rasa yang ada pada puisi ini adalah rasa ingin selalu bersemangat, meskipun jiwanya telah habis terlebur, ia tetap ingin mengobarkan semangatnya. Nada Nada yang muncul pada puisi “Api Suci” ini, Sutan Takdir Alisyahbana menuangkan nada yang penuh semangat, karena semangat telah ada kemudian lahirlah dorongan untuk mewujudkan harapannya Amanat Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca. adalah Hendaknya setiap manusia memiliki semangat yang besar untuk dapat bangkit dari sebuah keterpurukan dan jangan pernah henti untuk mencari inspirasi. Seperti kutipan /sesak mendesak rasa di kalbu/, /gelisah liar mata memandang/, /di mana duduk rasa di kejar Senang selalu dan mensyukuri apa yang terjadi walaupun waktu pahit sekalipun, semua itu tidak kekal dan hanya merupakan seni dari kehidupan. Seperti dalam kutipan /nyanyian semata bunyi jeritku/ Bentuk dan Struktur fisik puisiPerwajahan Puisi Tipografi Tipografi puisi Api Suci’ cukup sederhana, dengan penulisannya rata tengah. Sajak ini terdiri atas dua bait, dengan jumlah baris adalah 14, dengan masing-masing terdiri atas empat kata dengan 11 suku kata. Pada awal baris/kalimat, kata ditulis dengan hurut kapital, dan diakhiri tanda koma dan khusus baris terakhir pada bait diakhiri denga tanda titik. Dan memiliki berbagai macam bunyi vokal. Bunyi vokal dalam puisi Api Suci terdiri atas 76 vokal /a/, 23 vokal /i/, 16 vokal /u/, 24 vokal /e/, dan memiliki satu vokal /o/ dalam seluruh bunyi puisi. Diksi Diksi yang terdapat pada puisi “Api Suci” terdapat beberapa kata yang memakai konotasi, seperti Mengalun perlahan-lahan tidak meninggi tentang suara, nyanyian Membara berapi-api Nyala raya cahaya yang keluar dari api yang besar Terlebur telah luluh atau hancur mencair Bunyi jerit suara yang keras melengking manusia atau binatang atau teriakan. Imaji Imaji yang dipakai dalam puisi “Api Suci” ini adalah imaji auditif pendengaran, imaji visual pengelihatan dan imaji peraba seperti Imaji auditif /Nyanyian semata bunyi jeritku/ artinya si “aku” Senang selalu dan mensyukuri apa yang terjadi walaupun waktu pahit sekalipun, semua itu tidak kekal dan hanya merupakan seni dari kehidupan. Imaji visual /Seperti wajah merah membara/ artinya si “aku” bahwa pengarang sedang menggambarkan dirinya melalui wajahnya yang merah membara itu sebagai penanda rasa emosi yang memuncak yang berapi-api. /Gelisah liar mata memandang/ artinya si “aku” bahwa pengarang sedang menggambarkan dirinya melalui penglihatan yang liar karena gelisah itu sebagai penanda bahwa dirinya memiliki banyak pikiran akan cita-cita yang sedang diharapkannya sehingga pandangan matanya kabur bagaikan sedang melamun. /Dimana duduk rasa dikejar/ artinya si “aku” bahwa pengarang sedang menggambarkan dirinya sedang gelisah dalam lamunannya sehingga dimanapun dia berada seperti ada dorongan yang terus-menerus untuk bangkit dari kegelisahan hatinya. Imaji kinestetik/ peraba /Nikmat rasa api menghangus/ artinya si “aku” merasakan panasnya api yang digambarkan oleh penyair sebagai bentuk rasa semangat dalam menjalani kehidupan serta menyalakan semangatnya untuk memcapai keinginannya. Kata konkret Pada puisi “Api Suci” terdapat kata-kata konkret seperti Seperti /Wahai api bakarlah jiwaku/, /Biar mengaduh biar mengeluh/, /wajah merah membara/, /Dalam bakaran Nyala Raya/ maksudnya kata konkret diatas adalah memohon kepada sang pencipta wajahnya yang merah membara itu sebagai penanda rasa emosi yang memuncak yang berapi-api sehinnga terlihat cahaya yang api yang besar. Jadi wajah merah membara itu dilambangkan seperti api. Arti dari kalimat /wajah merah membara/, /Dalam bakaran Nyala Raya/ adalah Doa seorang hamba agar diberikan ketegaran jiwa, dan dalam doa itu ia ingin bangkit dalam keterpurukan hingga memiliki semangat. Bahasa figuratif majas Majas Hiperbola adalah makna bahasa yang berlebih-lebihan seperti pada kutipan /nikmat rasa api menghangus/ Majas repetisi adalah gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan kata, frasa atau klausa yang sama untuk mempertegas makna dari kalimat atau wacana. Dalam repetisi, pengulangan seluruh kata atau bentuk lain yang diulang memiliki arti kata yang sama. Seperti pada kutipan /selama nafas masih mengalun/, /Selama jantung masih memukul/ Majas metafora semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat seperti pada kutipan /Demikian rahmat tumpahkan selalu/ Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang menggunakan kata kiasan untuk menyatakan perbandingan sehingga meningkatkan kesan dan pengaruh terhadap pembaca atau pendengar. Seperti pada kutipan / Seperti wajah merah membara/ Rima Rima pada puisi Api suci diatas menggunakan rima bebas karena sajak yang digunakan dalam puisi tidak termasuk dalam aturan persajakan. , seperti Selama nafas masih mengalun, Selama jantung masih memukul, Wahai api bakarlah jiwaku, Biar mengaduh, biar mengeluh. Seperti wajah merah membara Dalam bakaran Nyala Raya, Biar jiwa habis terlebur, Dalam kobaran Nyala Raya. Sesak mendesak rasa di kalbu, Gelisah liar mata memandang, Di mana duduk rasa dikejar. Demikian rahmat tumpahkan selalu, Nikmat rasa api menghangus, Nyanyian semata bunyi jeritku. Jadi, dalam satu bait tidak ada yang sama Sutan Takdir Alisyahbana masih memakai soneta yang tiap barisnya terdiri dari 14 baris, namun dalam baris perbait mempunyai kesamaan dalam bait yang berbeda. [1] Sumasno Hadi, Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana Tentang Nilai, Manusia, Dan Kebudayaan, diunduh pada tanggal 4 April 2020. [2] A. Teew, Sastra dan Ilmu Sastra Jakarta PT Dunia Pustaka Jaya, 1984 hlm. 135 [3] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi Yogyakarta Gadjah Mada University Press, 2002 hlm. 37
19 Sep, 2021 Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Karya sastra termasuk puisi yang muncul pada waktu itu penuh. Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. cabik lunik 100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana Semangat from Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan. Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Majas apa saja yang ada dalam puisi "hujan bulan juni"? Contoh, novel kalah dan menang 1978 karya sutan takdir alisjahbana sta. Bentuk dan makna bukan merupakan alat akhir di dalam menginterpretasi suatu. Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. Majas apa saja yang ada dalam puisi "hujan bulan juni"? Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Dalam bukunya yang berjudul puisi baru 1951, sutan takdir alisjahbana. Bentuk dan makna bukan merupakan alat akhir di dalam menginterpretasi suatu. Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan. Tertulis terutama karya sutan takdir alisjahbana "antropologi baru Tuhanku aku mengembara di negara asing. Karya sastra termasuk puisi yang muncul pada waktu itu penuh. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh sta, tentang keyakinan masa . Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Karya sastra termasuk puisi yang muncul pada waktu itu penuh. Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Dalam bukunya yang berjudul puisi baru 1951, sutan takdir alisjahbana. cabik lunik 100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana Semangat from Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Tuhanku aku mengembara di negara asing. Tuhan, kau lahirkan saya tak pernah kuminta. Dalam bukunya yang berjudul puisi baru 1951, sutan takdir alisjahbana. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan. Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh sta, tentang keyakinan masa . Contoh, novel kalah dan menang 1978 karya sutan takdir alisjahbana sta. Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Tertulis terutama karya sutan takdir alisjahbana "antropologi baru Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh sta, tentang keyakinan masa . Tuhanku aku mengembara di negara asing. Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Majas apa saja yang ada dalam puisi "hujan bulan juni"? Bentuk dan makna bukan merupakan alat akhir di dalam menginterpretasi suatu. Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Contoh, novel kalah dan menang 1978 karya sutan takdir alisjahbana sta. Tuhan, kau lahirkan saya tak pernah kuminta. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan. Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Tuhan, kau lahirkan saya tak pernah kuminta. cabik lunik 100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana Semangat from Karya sastra termasuk puisi yang muncul pada waktu itu penuh. Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Tuhanku aku mengembara di negara asing. Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh sta, tentang keyakinan masa . Contoh, novel kalah dan menang 1978 karya sutan takdir alisjahbana sta. Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh sta, tentang keyakinan masa . Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan. Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Tuhanku aku mengembara di negara asing. Dalam bukunya yang berjudul puisi baru 1951, sutan takdir alisjahbana. Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. Makna puisi aku dan tuhanku karya sutan takdir alisjahbana pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan . Contoh, novel kalah dan menang 1978 karya sutan takdir alisjahbana sta. Sutan takdir alisyahbana, dan sanusi pane, pada angkatan balai pustaka, karya yang. Sutan takdir alisjahbana disebut sebagai puisi. Karya sastra termasuk puisi yang muncul pada waktu itu penuh. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Makna Puisi Aku Dan Tuhanku Karya Sutan Takdir Alisjahbana - cabik lunik 100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana Semangat - Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana.. Baru, seperti pada sajak menuju ke laut karya sutan takdir alisyahbana. Dan saya tahu, sebelum saya kau ciptakan. Takdir alisjahbana dalam bidang prosa dan amir hamzah bidang puisi; Angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya sutan. Mustofa bisri, bahasa sajak disikapi sebagaimana "aku tak akan.